Selasa, 11 Agustus 2009

Bantuan Panti Asuhan Al Ihsan Ponorogo



Ahad, 9 Agustus 2009. Lembaga Manajemen Infaq Cabang Madiun menyerahkan Beasiswa ke Panti Asuhan Al Ihsan Desa Pintu Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo.



Beasiswa diterima anak-anak panti Asuhan dengan diwakili oleh pengasuh Panti Asuhan. Panti asuhan yang bangunannya masih menjadi satu dengan bimbingan belajar ini, menggunakan ruangan 6 X 6 untuk tidur. Ruangan yang digunakan untuk tidur anak yatim ini hanya terlihat sejumlah lemari untuk keperluan anak-anak, beberapa karpet (tidak tampak adanya kasur untuk tidur anak-anak)



Samsudin, pengurus panti mengatakan, munculnya Panti ini berawal dari permintaan tolong beberapa orang untuk menitipkan anak mereka di rumah pengurus, sekaligus meminta tolong untuk dibantu masalah sekolahnya, dari fasilitas sampai biaya sekolah. Pada saat awal hanya ada 2 orang anak, masih mampu dibantu pengurus secara pribadi. Setelah jumlah anak mencapai 10 orang, pengurus memutuskan untuk membuat sebuah Panti Asuhan

Barang kali ada diantara pembaca yang ingin membantu panti asuhan yang masih membutuhkan, bisa disalurkan melalui LMI Madiun. Kami akan menyalurkan sesuai dengan amanah Anda.



Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh donator dan masyarakat yang telah mendukung kami dalam membantu program social kami.



Lembaga Manajemen Infaq, Amil Zakat Propinsi Jawa Timur

Cabang Madiun, Jl semangka 32 Madiun



SMS Center :

081 234 200 200



Contact lain:

0351- 77 11 900

085 7333 0 7333

087 858 331 331

Ibu Saya Langsung Menangis - Bantuan ketiga untuk Agus



Ibu Saya Langsung Menangis



Ahad, 9 Agustus 2009. Lembaga Manajemen Infaq Cabang Madiun menyerahkan kembali bantuan untuk Agus Purwanto. Bantuan yang diserahkan hari ini berupa uang tunai sebesar 11.870.000 disaksikan oleh seorang anggota DPRD dan 2 orang wartawan.



Begitu tahu jumlah bantuan yang kami antar, Sang ibu langsung menangis dan terus menangis tak henti-henti. Bagaimana tidak, surat permintaan bantuan kepada pihak Rumah Sakit, stasiun TV Swasta bahkan katanya sampai Presiden tidak ada respon. Sementara lembaga kecil seperti LMI Cabang Madiun mampu menghimpun dana dari muhsinin sebesar itu.



Agus Purwanto adalah Pemuda 35 tahun yang terpaksa terbaring di atas tempat tidurnya selama 13 tahun karena penyakit pengapuran tulang dan sendi.



Agus menjadi anak yatim sejak masih bayi. Ayahnya meninggal dunia pada usia relative muda, 35 tahun. Agus yang anak tunggal ini tinggal berdua dengan sang ibu yang harus banting tulang memenuhi kebutuhan hidup untuk mereka berdua.



Agus dengan keterbatasan yang ada, Agus tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Pada saat duduk di bangku SMA, agus merasakan tubuhnya kurang fit, sepeti flu tulang. Nyeri mulai muncul di tulang-tulangnya. Selama berstatus pelajar SMA penyakitnya masih tertahankan, bahkan Agus termasuk pelajar berprestasi dan akhirnya bisa masuk perguruan tinggi melalui jalur PMDK.



Selama kuliah, sakitnya bertambah parah dan terakhir pada semester 7 terpaksa berhenti kuliah karena tak mampu lagi menahan sakit. Mulai saat itu, tepatnya tahun 2006 Agus harus terbaring diatas ranjangnya karena semua persendiannya mengeras dan menjadikan seluruh tulangnya mulai dari leher hingga ujung kaki kaku dan tak bisa digerakkan.



Bantuan yang kami salurkan berawal dari email yang dikirimkan Agus ke LMI Pusat di Surabaya, dan mengamanahkan LMI Madiun untuk mencover. Dan kami memforward email beliau hingga mendapat respon seperti sekarang.



JUMLAH BANTUAN:

Bantuan uang tunai hingga Ahad, 9 Agustus 2009 sudah diserahkan sebesar 13.370.000 yang terbagi 3 tahap:

-Tahap 1 : 500.000

-Tahap 2 : 1.000.000

-Tahap 3 : 11.870.000

Selain bantuan tersebut, kami telah menyalurkan bantuan barang berupa :

-Kasur

-Bantal-guling

-Sprei

-Beras

-Mie instant

-Gula

-Minyak

-Obat-obatan



Bantuan lain yang sedang disiapkan adalah Bed.



Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh donator dan masyarakat yang telah mendukung kami dalam membantu Agus Purwanto dan pihak-pihak lain dalam program social kami.



Lembaga Manajemen Infaq, Amil Zakat Propinsi Jawa Timur

Cabang Madiun, Jl Semangka 32 Madiun



SMS CENTER :

081 234 200 200



CONTACT LAIN:

0351- 77 11 900

085 7333 0 7333

087 858 331 331

Kamis, 30 Juli 2009

BANTUAN KEDUA UNTUK AGUS PURWANTO





Kamis, 30 Juli 2009. Dengan menumpang mobil salah seorang donatur, LMI Madiun kembali meluncur ke Ponorogo Pukul 16.00 WIB untk menyalurkan bantuan kedua untuk Agus Purwanto yang menderita kelumpuhan akibat pengapuran tulang dan sendinya.



Pada kesempatan kali ini LMI Madiun disertai oleh donatur dari LISHA MEUBEL, yang nantinya akan membantu Bed untuk agus. Pada awalnya kami berusaha mencarikan bed yang dibutuhkan Agus di took-toko, apotek dan rumah sakit, akan tetapi tidak menemukan. Kami kemudian berinisiatif memesan ke LISHA MEUBEL Madiun yang biasa memproduksi furniture berkualitas, dengan harapan bed yang kami berikan nantinya juga kuat dan tahan lama.



Setelah kami menyampaikan peruntukannya, pihak LISHA MEUBEL langsung mengatakan, ”oke, nanti saya yang menyediakan Bednya, tidak usah dibayar. Hanya nanti saya minta tolong untuk diantar ke sana karena pick up saya kondisinya kurang baik. Mungkin tidak kuat kalau harus mengantar ke Ponorogo.” Alhamdulillah satu lagi donator membantu Agus. Pada kamis itu pula pihak LISHA MEUBEL mengajak kami untuk menjenguk Agus, sekaligus melakukan pengukuran Bed yang dibutuhkan agus.



Pada kesempatan itu, LMI MAdiun juga menyerahkan bantuan berupa, Kasur, bantal, guling. Sprei, obat-obatan, minyak Goreng, Gula, beras, Mie Instan, dan uang tunai bantuan dari pegiat internet Indonesia. Insya allah pada senin atau selasa 4 Agustus 2009 kami akan menyalurkan lagi bantuan yang sudah masuk dengan jumlah yang lebih besar.



Semoga Bantuan Bapak-Ibu dermawan bisa meringankan beban mereka. Amin.

Selasa, 28 Juli 2009

Katifah, Janda dengan 4 anak Pintar


Tiga tahun yang lalu pak Lilik Setiono pergi menghadap Illahi meninggalkan sang istri tercinta dan keempat putra putrinya yang masih kecil – kecil. Kematian yang datang setiap saat, membawa kesedihan yang mendalam bagi keluarga ini. Ibu Katifah hanya seorang ibu rumah tangga akhirnya harus berperan sebagai ayah. Saat pak Lilik Setiono pergi, tak ada barang berharga yang beliau tinggalkan bahkan beliau tinggalkan hutang di beberapa tempat.

Bu Katifah bersama keempat putra putrinya saat ini tinggal di rumah yang status tanahnya masih milik Negara. Rumah tembok yang masih kelihatan batu batanya dan berlantai tanah ini terletak di jalan Gajah Mada gg Tepel. Di dalam rumah tersebut hanya terdapat satu tempat tidur beserta beberapa kasur yang sudah usang dan sebuah televisi lama sebesar 14 inci. Saat LMI Madiun bekunjung ke rumah beliau, tidak ada tempat duduk/ kursi di dalam rumah tersebut. Akhirnya kami berdiri di luar rumah.

Putri pertama bernama Risma bersekolah di SMPN 9 kelas VIII, putra kedua (Raka Obit) kelas V, Lulu ( putri ketiga ) kelas 2 dan Tito baru berusia 2 tahun. Meskipun hidup dalam kesederhanaan putra kedua dan ketiga mendapat rangking IV di kelasnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari dan biaya sekolah putra putrinya, beliau harus bekerja mulai pagi sampai siang hari. Bu Katifah berangkat dari rumah setelah semua anaknya berangkat sekolah.

Sambil menggendong putra bungsunya beliau mengayuh sepeda dari SD ke SD dengan membawa dagangannya yang berupa mainan anak – anak dan gorengan ( pisang goreng, tahu isi, dan tempe goreng ). Kegiatan itu beliau lakukan setiap hari tanpa kenal lelah dengan harapan bisa memenuhi kebutuhannya sehari –hari.

Beliau selalu bersyukur meskipun pendapatannya setiap hari tidak tentu, kadang beliau bawa pulang uang sebesar Rp.15.000 – 20.000 sehari. Hasil penjualan itu masih diambil sebagian untuk modal esok hari. Di tengah sulitnya ekonomi keluarga yang dialami keluarganya, ternyata tidak menuyrutkan semangat putra putri beliau untuk selalu rajin sekolah dan tekun belajar untuk mencapai cita – citanya.

Foto-foto Bu Katifah bisa dilihat di http://fotolmimadiun1.blogspot.com/2009/07/janda-dengan-4-anak-pintar.html

Katifah, Janda dengan 4 anak Pintar


Tiga tahun yang lalu pak Lilik Setiono pergi menghadap Illahi meninggalkan sang istri tercinta dan keempat putra putrinya yang masih kecil – kecil. Kematian yang datang setiap saat, membawa kesedihan yang mendalam bagi keluarga ini. Ibu Katifah hanya seorang ibu rumah tangga akhirnya harus berperan sebagai ayah. Saat pak Lilik Setiono pergi, tak ada barang berharga yang beliau tinggalkan bahkan beliau tinggalkan hutang di beberapa tempat.

Bu Katifah bersama keempat putra putrinya saat ini tinggal di rumah yang status tanahnya masih milik Negara. Rumah tembok yang masih kelihatan batu batanya dan berlantai tanah ini terletak di jalan Gajah Mada gg Tepel. Di dalam rumah tersebut hanya terdapat satu tempat tidur beserta beberapa kasur yang sudah usang dan sebuah televisi lama sebesar 14 inci. Saat LMI Madiun bekunjung ke rumah beliau, tidak ada tempat duduk/ kursi di dalam rumah tersebut. Akhirnya kami berdiri di luar rumah.

Putri pertama bernama Risma bersekolah di SMPN 9 kelas VIII, putra kedua (Raka Obit) kelas V, Lulu ( putri ketiga ) kelas 2 dan Tito baru berusia 2 tahun. Meskipun hidup dalam kesederhanaan putra kedua dan ketiga mendapat rangking IV di kelasnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari dan biaya sekolah putra putrinya, beliau harus bekerja mulai pagi sampai siang hari. Bu Katifah berangkat dari rumah setelah semua anaknya berangkat sekolah.

Sambil menggendong putra bungsunya beliau mengayuh sepeda dari SD ke SD dengan membawa dagangannya yang berupa mainan anak – anak dan gorengan ( pisang goreng, tahu isi, dan tempe goreng ). Kegiatan itu beliau lakukan setiap hari tanpa kenal lelah dengan harapan bisa memenuhi kebutuhannya sehari –hari.

Beliau selalu bersyukur meskipun pendapatannya setiap hari tidak tentu, kadang beliau bawa pulang uang sebesar Rp.15.000 – 20.000 sehari. Hasil penjualan itu masih diambil sebagian untuk modal esok hari. Di tengah sulitnya ekonomi keluarga yang dialami keluarganya, ternyata tidak menuyrutkan semangat putra putri beliau untuk selalu rajin sekolah dan tekun belajar untuk mencapai cita – citanya.

Foto-foto Bu Katifah bisa dilihat di http://fotolmimadiun1.blogspot.com/2009/07/janda-dengan-4-anak-pintar.html

Sabtu, 25 Juli 2009

Anak saya tak mungkin sembuh...





Hari Rabu tanggal 22 Juli 2009 kami menerima telepon dari LMI Surabaya. Mereka memberitahukan kepada kami adanya sebuah pengajuan bantuan dari Agus Purwanto yang mengaku beralamat di Ponorogo dan juga mengaku telah 13 tahun menderita sakit.





Menurut pengakuannya beliau menderita kelumpuhan dan bertahun-tahun hanya bisa terbaring di tempat tidurnya. LMI Surabaya meminta alamat email kami dan meminta LMI Madiun untuk mencover dengan pertimbangan lokasi yang lebih dekat.





Pada keesokan harinya kami membuka email sudah ada satu email yang masuk. Email forward dari seorang yang berinisial Agus Purwanto. Sama seperti yang diceritakan LMI Surabaya.





Kami segera melakukan pengecekan dengan bantuan Ustadz Samsudin yang sering mengisi kajian yang kami selenggarakan untuk donator di LMI Madiun. Ternyata yang mengajukan adalah teman istri Ustadz Samsudin sendiri pada saat sekolah diniyah.





Hari Sabtu 25 Juli 2009 Tim LMI Madiun meluncur ke alamat mertua Ustadz Samsudin yang berdekatan dengan rumah Agus Purwanto. Meskipun Ustadz Samsudin sedang sakit, dengan jalan masih terpincang beliau mengantar kami menjemput Bapak Arif, ketua RT tempat Agus Purwanto tinggal.







TINGGAL DI GUBUG UKURAN 3 X 3 METER





Dekat rumahnya, kami melihat sebuah gubug bamboo kecil di sudut sebuah rumah tua yang kurang terawatt. Kami khawatir, jangan-jangan Agus ditempatkan oleh keluarganya di gubug berukuran 3X3 itu. Dan kekhawatiran kami akhirnya terbukti. Agus purwanto tinggal setiap hari di gubug itu.





Gubug beratapkan genteng tua, dengan konstruksi kayu, hanya beralaskan tanah, berdinding anyaman bambu. Anyaman bambu ini kalau di desa biasa digunakan petani untuk menjemur padi setelah panen, sebelum disimpan di lumbung. Beberapa daerah menyebutnya dengan istilah ”KEPANG”.





”Gubug ini yang membuat teman-temannya Mas. Dulu agus ini tinggal di dalam rumah, di kamar yang sumpek. Agus ingin menghirup udara lebih bebas agar lebih fresh dan mengurangi stress. Maka teman-temannya datang dan membuat gubug ini” demikian ibunya menyampaikan perihal tinggalnya Agus di gubug itu.





Saat kami dipersilakan masuk oleh sang ibu, kami segera melongok ke dalam dulu. Kami melihat sosok yang sangat kurus terbaring di dipan kayu dengan kasur kapuk tipis yang terbungkus sprei putih kusut. Kecilnya sprei membuat kasur tidak seluruhnya tertutupi olehnya. Badan yang sangat kurus itu tertutup selimut motif garis putih dan merah. Selimut yang kotor dan kasar. Diatas perutnya teronggok sebuah jaket kumal yang sengaja digunakan sedikit menutup bagian perut hingga paha atas.





Tampak juga banyak benda diatas kasur itu. Ada tongkat jalan, ada pipa aluminium yang biasa kita lihat di antena tv, ada kayu, alat linting rokok, asbak, botol aqua ukuran 1500 cc, Spidol besar, mouse, terminal listrik, terlihat juga pisang yang tinggal 2 biji. Di atas dadanya tampak kertas dan diatas kertas terdapat korek gas berwarna biru.





Kami segera masuk setelah mengucapkan salam. Dan dijawab dengan cukup lantang oleh agus. Pada saat kami masuk, Agus sedang mendengarkan alunan lagu dari Compo Polytron yang diletakkan diatas meja sebelah kirinya.





Setelah menceritakan maksud kedatangan kami sebagaimana kami sampaikan diatas, kami segera menanyakan kabar dan menanyakan awal mula beliau menderita sakit seperti sekarang.







SAKIT SEJAK SMA





Rasa sakit dirasakan oleh Agus sejak kelas satu SMA. Saat itu Agus merasakan nyeri pada persendia dan tulangnya sebagaimana flu tulang. Rasa sakit saat itu masih bisa ditahan dan tidak begitu mengganggu aktivitas belajarnya sampai berhasil menyelesaikan SMA dengan prestasi yang sangat baik.





Rasa sakit tidak menghalangi mimpi dan cita-citanya. Peluang untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi melalui jalur khusus yang saat itu disebut PMDK diambilnya, memilih Fakultas Teknik, Program Studi Matematika (sekarang FMIPA - Matematika), Universitas Sebelas Maret (UNS) – Surakarta. Berkat kepintarannya Agus diterima dan berhak mendapatkan bantuan pendidikan berupa beasiswa supersemar.





Rasa sakit masih terus dirasakannya, dan akhirnya pada semester 7 Agus terpaksa meninggalkan bangku kuliahnya karena sakit yang diderita telah menjadikannya seorang manusia yang lumpuh. Postur tubuh yang tadinya gemuk berangsur-angsur mengecil. Tulang-tulangnya yang sejak lama sakit menjadi tampak semakin kecil tanpa banyak daging yang melekat. Seluruh sendi tulangnya mengapur, mengeras dan tak dapat digerakkan lagi. Agus terbaring total pada tahun 1996.





Agus menjadi manusia kaku mulai leher, punggung, pinggul, pinggang, lutut hingga kaki bagian bawah dan jarinya menjadi kaku tidak bisa digerakkan dan tidak bisa ditekuk. Agus hanya bisa terbaring, terbujur kaku diatas tempat tidur tuanya. Dari semua bagian tubuhnya hanya tangan yang bisa digerakkan. Bagian yang lain semua kaku, bahkan untuk menengokpun tidak bisa, hanya matanya yang melirik kanan-kiri saat berkomunikasi dengan kami. Tidurpun Agus tidak menggunakan bantal. Leher yang sudah kaku akan menjadi sangat sakit jika diberi bantal di bawah kepalanya.







USAHA PENYEMBUHAN





Pengobatan beberapa saat di RS Moewardi Surakarta sebenarnya sempat mengurangi rasa sakitnya dan harus dilanjutkan dengan rawat jalan. Akan tetapi karena keterbatasan dana menjadikan Agus dan keluarganya menyerah pada nasib. Bersabar dan menikmati apa yang Allah berikan kepadanya.





Hingga saat ini berarti sudah 13 tahun terbaring diatas tempat tidur. Semua aktivitas dilakukan dari atas tempat tidurnya, termasuk buang air besar maupun buang air kecil.





Agus menjadi perokok sejak terbaring dan Buang air di atas tempat tidur. Katanya untuk menghilangkan bau tidak sedap.





13 tahun terbaring diatas tempat tidur menjadikan punggung Agus bukan hanya terasa panas, tapi sampai lecet dan bahkan menjadi luka. Awalnya dirawat menggunakan revanol, ditutup kapas dan diplester, tapi itu menimbulkan rasa sakit luar biasa saat mengganti kapas. Kapasnya melekat pada luka dan susah untuk dilepas. Sekarang hanya dibersihkan dengan revanol dan ditutup dengan penutup luka semacam tansoplast atau hansaplast.





Saat memeriksakan sakitnya di RSD Ponorogo, pihak RSD di Ponorogo sudah menyerah dan menyarankan untuk berobat di RS yang lebih lengkap. Saat di RS Ponorogo hanya diberikan vitamin dan beberapa obat yang sangat dibutuhkan. Atas semua layanan RSD keluarga Agus harus membayar, karena tak ada fasilitas gratis untuk Agus meskipun dia dan keluarga saat itu tergolong miskin.





Pengajuan permohonan untuk bisa dirawat gratis tidak mendapatkan respon. Demikian juga permohonan bantuan vitamin dan obat sekedar untuk meringankan sakitnya tidak ada respon dari pihak rumah sakit. Pernah suatu saat Agus mengajukan permohonan sumbangan bed seperti yang biasa digunakan oleh rumah sakit juga ditolak. Bed yang dimaksud agus adalah sekedar Bed yang disamping kanan dan kirinya terdapat pegangan agar kalau Agus ingin sedikit miring, bisa dilakukan sendiri dengan berpegangan pada pegangan yang tersedia. Kamipun memaklumi bahwa semua ada prosedur di sana.







ANAK YATIM YANG INGIN BAHAGIA





Selama ini sang ibu yang merawat Agus karena tidak ada lagi keluarga yang lain. Ayahnya sudah meninggalkan Agus dan sang ibu sejak usia Agus enam bulan. Saat meninggal usia sang ayah 35 tahun, usia yang sangat muda. Agus sendiri sejak kecil merasa sengsara karena menjadi anak yatim dengan segala keterbatasannya.





”dulu saya selalu berdoa, meskipun masa kecil saya susah, semoga suatu saat nanti saya menjadi orang yang bahagia. Eh ternyata malah jadinya begini. Sepanjang hidup harus terbaring sakit diatas tempat tidur” begitu ungkap agus dengan nada kepasrahan. Mendengar pernyataan agus tersebut kami dan Ustadz Samsudin berusaha membesarkan hati dan harapan agus.





”Mas, kebahagiaan itu adanya di sini, di dalam dada kita. Jangan dikira orang sehat seperti kami ini dijamin bahagia. Belum tentu. Para pejabat, mereka yang memiliki kedudukan tinggi, orang-orang kaya, itu bukan jaminan mereka bahagia di dalam hidupnya. Akan tetapi orang-orang yang diberikan oleh Allah cobaan dan ujian, sesungguhnya dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah. Penderitaan fisik yang saat ini dialami, jika diterima dengan sabar dan lapang hati insya Allah akan mendatangkan pahala dan kebahagiaan.”





”Jadi intinya ada di hati kita. Mau kita jadikan hidup kita bermakna ataukah berlalu begitu saja tanpa makna. Semuanya tergantung kita. Penyesalan kita akan kondisi saat ini, tidak akan pernah menjadikan semua akan berubah. Jadi jalan satu-satunya adalah menerima semuanya dengan sabar dan tawakkal.”





Sang ayah memang dulunya adalah anggota ABRI yang berhak atas dana pensiun, akan tetapi banyaknya biaya yang harus ditanggung untuk pengobatan Agus dan terpaksa meminjam bank, menjadikan sisa pensiun yang diterima saat ini hanya 83.000 per bulan. Jumlah ini tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya bersama sang ibu.





Sebenarnya saudaranya sudah banyak membantu, akan tetapi karena kebutuhannya menjadikan sang ibu masih harus meminjam kesana kemari. Tidak hanya perorangan tapi sampai RT dan Rentenir.





“Saya terpaksa Mas, kalau tidak begini bagaimana saya memenuhi kebutuhan anak saya. Yang saya pikirnkan hanya bagaimana asupan gizi dan obat-obatan anak saya tercukupi. Saya mau pinjam saudara lagi sudah sungkan. Bagaimanapun mereka sudah berkeluarga dan membiayai anak-anak mereka sekolah juga. Akhirnya waktu saya butuh uang untuk kebutuhan obat Agus ada rentenir yang menawari, saya ambil juga. Saya sudah tidak punya jalan lagi mas. Dulu saya sesekali dimintai tolong tetangga dan kenalan membuatkan snack, tapi sekarang modal saya semua sudah habis.”





“Saya juga tidak bisa meninggalkan Agus sendirian karena semua aktivitasnya harus saya bantu.”







SANG IBU YANG MERAWAT AGUSPUN JUGA SAKIT





”Saya sendiri sebenarnya juga sakit Mas, saya kena Diabetes, tapi juga tidak mungkin berobat karena tidak ada biaya.”





Ya. Sejak lama sang ibupun sakit, akan tetapi karena biaya yang tidak ada maka tak ada usaha pengobatan diabetesnya. Sang ibu hanya bisa menerima apa yang Allah berikan kepada keluarganya.





Kalau Anda berkunjung ke gubug mereka, Anda akan melihat sang ibu dengan mata cekungnya, terlihat sangat capek, kurus, matanya tak bersinar sebagaimana mereka yang sehat dan memiliki harapan poanjang. Kita bisa memaklumi, 13 tahun mengurus anak dengan kondisi seperti itu, apalagi dalam kondisi sakit.





Dari semua kata yang terlontar, sangat nampak bagaimana sang ibu menerima kondisi keluarganya. Sangat tipis perbedaan yang kami lihat antara pasrah, lelah ataukah putus asa. Kami terhenyak dengan satu ucapan beliau saat mengantar kami pulang. Di depan rumahnya beliau mengatakan, “Anak saya tidak mungkin sembuh Mas, saya hanya berusaha memenuhi semua kebutuhannya, sak kuat saya. Anak saya sudah seperti itu 13 tahun. Semoga saja anak saya diberikan kekuatan dan umur yang panjang.”







KEBUTUHAN MENDESAK SEKARANG





Sebelum kami pulang, kami menanyakan kepada Agus, kebutuhan apa yang sangat mendesak. Agus menyampaikan yang sangat dibutuhkan selain bahan makanan, obat-obatan juga Bed dengan pegangan di samping kanan kirinya.





Sebenarnya kalau kami melihat tentu lebih dari itu. Mulai kasur-sprei, bantal untuk mengganjal beberapa bagian tubuh jika dibutuhkan, pakaian, selimut, mengganti dinding dll.





Ibunya mengatakan kalau yang paling mendesak adalah obat-obatan. Beliau menyebutkan Agus butuh Ravanol, kapas untuk membersihkan luka. Tensoplast/hansaplast, voltaren, suplemen seperti madu, bee pollen, liquid chlorophil dan lain-lain untu menggantikan asupan gizi. Selama ini Agus jarang mengkonsumsi nasi dalam jumlah standar karena perutnya juga bermasalah.





Bagi Anda yang ingin melihat Foto-foto Agus ada http://fotolmimadiun1.blogspot.com/2009/07/agus-purwanto-si-cerdas-yang-lumpuh.html











Hormat Kami





Miftahurrohman



=====

Jumat, 24 Juli 2009

PERMOHONAN SI LUMPUH





Saya adalah mantan mahasiswa Fakultas Teknik, Program Studi Matematika (sekarang FMIPA - Matematika), Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta, angkatan tahun 1993 dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM): I.0393001, mencapai semester 7 dan sudah mendapat 128 SKS, saat menjalani pendidikan saya mendapat Beasiswa SUPERSEMAR yang pada saat itu bergengsi karena ketua yayasan beasiswa tersebut yaitu Bapak Soeharto masih menjabat Presiden. Saya masuk UNS melalui jalur prestasi yang saat itu disebut PMDK (tanpa tes).



Namun studi saya terhenti di semester 7 karena keparahan penyakit saya. Sekarang, saya sudah selama 13 tahun terbaring lumpuh kaku di tempat tidur terus-menerus. Sudah tidak pernah bisa turun lagi. Hampir seluruh sendi dan tulang tubuh saya telah rusak mengapur, meradang, nyerinya luarbiasa. Karena itu, saya terpaksa setiap hari minum obat antinyeri-antiradang-antirematik NATRIUM DICLOFENAC dan beberapa obat lainnya untuk melawan nyeri hebat ini.



Ibu saya yang menderita diabetes adalah satu-satunya orang yang sepenuhnya merawat saya, segalanya, termasuk menangani buang air besar dan air kecil saya di pembaringan ini. Ibu juga yang mencarikan nafkah. Sementara itu, sakit ibu sendiri tidak terperhatikan maupun diobati. Kami penuh dalam kesulitan hidup. Mohon kami diperkenankan dibantu (disumbang) BAHAN PANGAN dan DANA UNTUK PEMBELIAN OBAT-OBATAN HARIAN saya yang sungguh vital saya butuhkan.



Hormat saya, Agus Purwanto, Jl. Muria 28C Ponorogo, 63419, Jatim, Indonesia