Bencana Jebolnya tanggul Situ Gintung mengejutkan kita semua. Bencana yang datang dengan tiba-tiba ini telah merenggut banyak nyawa.
Siapa yang tidak merasa iba melihat rumah-rumah yang luluh lantak, korban sedemikian banyak menjadikan kita semakin menyadari betapa kita mesti bersyukur atas kehidupan yang masih diberikan kepada kita
Evakuasi sudah dilakukan, pertolongan dan bantuan sudah datang untuk menangani korban sejak hari pertama bencana. Posko penanggulangan berdiri dan membantu korban sepenuh hati.
Yang perlu kita lakukan sekarang adalah membantu mereka dalam masa recovery. Anda yang berada di wilayah JABODETABEK akan mudah membantu mereka yang menjadi korban.
Bagi Anda yang jauh dari lokasi bencana, Bantuan disa disalurkan melalui LMI Madiun.
Silakan transfer bantuan Anda dan lakukan konfirmasi ke SMS CENTER LMI Madiun: 081 234 200 200.
ANDA BISA MENTRANSFER MELALUI REKENING:
BCA:
1771064766
a.n. Miftahurrohman
BNI:
9545951-0
a.n. Miftahurrohman
BRI:
0045-01-025609-50-2
a.n. Miftahurrohman
MANDIRI :
144-00-0491981-4
a.n. Miftahurrohman
BMI :
742.00037.22
a.n. LMI Cabang Madiun
BSM :
0640006667
a.n. LMI Cabang Madiun
MEGA :
02-100-00-20-02456-0
a.n. Miftahurrohman
BII :
1051231127
a.n. Oki Surendro
KANTOR POS: SHAR-E
913 46 45 699
a.n. Miftahurrohman
(berlaku di seluruh kantor Pos Indonesia bertanda SOPP)
SEGERA LAKUKAN KONFIRMASI VIA SMS CENTER 081 234 200 200 SETELAH ANDA MENTRANSFER
Jika tidak ada informasi, pada tutup buku, akan kami bukukan sebagai Infaq
Nomor rekening, Foto Kegiatan, Laporan Keuangan bisa di lihat di lmimadiun.blogspot.com
Ada sedikit kekeliruan atas informasi yang kami terima tentang Nila dan Keluarganya
1. Nila sekarang kelas 2 dan bukan kelas 1. 2. Ibunya bernama Yatmiati atau Bu Miati bukan Yatmiasih atau Bu Miasih
NETTER PEDULI
Setelah kisah nyata kehidupan Nila, bocah kelas 2 SDN 06 Kare Kabupaten Madiun tampil di lmimadiun.blogspot.com, dan kami kirimkan ke milist pada jumat dini hari, ada 4 netters yang membantu Nila. Mereka yang baik hati ini mengaku bernama bapak Harnanto, Ibu Fauziah, Bapak Gunarso dan Bapak Teuku Meldi.
Beliau melakukan konfirmasi ke SMS Center LMI Madiun yang kami cantumkan di lmimadiun.blogspot.com dengan nomor 081 234 200 200. kami kemudian melakukan pengecekan ke rekening yang ditunjuk diantara 10 rekening LMI Madiun.
Dari pagi hingga siang hari yang melakukan konfirmasi adalah Bapak Harnanto dan Ibu Fauziah. Dengan adanya konfirmasi ini kami memutuskan untuk menyerahkan bantuan pada sore hari. Sayangnya Jumat sore turun hujan, sementara untuk menuju rumah Nila harus menempuh jalan yang naik-turun dan berkelok-kelok. Akhirnya kami putuskan untuk menyalurkan pada sabtu pagi.
Sore hari menjelang maghrib dua netter lagi melakukan konfirmasi transfer ke sms center LMI Madiun. Bantuan 4 netter baik hati ini akhirnya kami salurkan pada sabtu 28 Maret 2009.
Jumat malam, kantor LMI kembali kedatangan seseorang warga Madiun. Beliau diminta sang adik yang bekerja di Jakarta untuk mengecek kebenaran kisah Nila. Staf yang masih di kantor menjelaskan sedetail-detailnya kondisi Nila.
Sempat staf LMI menawarkan kepada beliau untuk ikut berkunjung ke rumah Nila saat penyerahan bantuan. Akan tetapi beliau menolak. Dan mengajak ketemu lagi Sabtu malam setelah menceritakan hasil pertemuan kepada Sang Adik. Pertemuan akhirnya disepakati hari Ahad.
Sejujurnya, kami sebegai pengelola dana amanah ummat ini lebih senang jika donator bisa dating sendiri dan menyaksikan kondisi Nila dan keluarga, kami akan mengantar ke sana dengan suka hati.
PENYERAHAN BANTUAN.
Miftahurrohman-manajer LMI Madiun disertai 4 staf meluncur dari kantor LMI Sabtu 28 Maret 2009 pukul 10.00. tujuan pertama adalah menjemput Relawan LMI yang berlokasi di Kare Kabupaten Madiun yang tahu persis rut eke sana. Kami belum hafal rutenya karena baru sekali kesana dan diantar relawan tadi.
Kami Sampai di Kecamatan Kare pukul 11.30.Kami putuskan untuk makan siang dulu dilanjutkan sholat Dhuhur. Setelah cukup berbasa basi, kami segera merayap naik menuju Rumah Nila. Saat LMI dating, Nila dan Bu Miati sedang mengantar tamu yang berkunjung hingga pintu rumahnya.
Bu Miati dan Nila menyambut kami di depan rumah yang tak berhalaman ini. Kami sempat menanyakan kabar mereka berdua. Dan alhamdulillah mereka dalam keadaan baik tak kurang apapun (maksudnya sehat gitu…)
Baju yang dikenakan Nila masih seperti baju ketika digunakan untuk menerima kami saat itu. Yang berbesa adalah sang ibu, Miati. Kalau kesempatan sebelumnya Miati mengenakan pakaian alakadarnya. Alakadar yang sebenarnya. Kesempatan ini beliau mengenakan kaos warna kuning kuat yang tampak cukup pantas dikenakan. Meski kalau diamati, sebenarnya sudah cukup usang.
Tanpa banyak basa basi kami dipersilakan masuk dan kami langsung menyampaikan maksud kedatangan kami. Kami serahkan yang pertama adalah beasiswa bulan kedua yang menjadi hak Nila.
Kemudian kami sampaikan kepada mereka ada empat orang yang baik hati membantu mereka dengan menitipkan kepada LMI Madiun. 2 orang dari Jakarta, 1 orang dari Bekasi dan 1 orang dari aceh. Nila hanya diam tidak ada perubahan ekspresi. Miati, Sang Ibu mulai merona merah wajahnya.
Ketika kami sampaikan nilai yang dititipkan kepada LMI oleh 4 orang tersebut sejumlah 1.050.000, tangis Miati tak terbendung. Keharuan menyelimuti seisi rumah, 4 staf LMI, dan di depan pintu 3 Relawan LMI juga terlihat haru melihat ekspresi Bu Miati.
Diantara tangisnya yang tidak kunjung reda, Miati selalu mengucapkan, “Matur nuwun Mas… Gusti Allah sing Mbales” (Terima Kasih Mas…. Allah yang Akan membalas)
Berkali-kali, kami menegaskan bahwa kami hanya mengantarkan titipan tersebut. Dan juga kami sampaikan pesan salah satu dari empat netter yang baik hati ini, agar bantuan ini digunakan seperlunya, sisanya ditabung, barangkali nanti ada keperluan yang mendesak untuk dipenuhi.
Sepulang kami menyerahkan Bantuan untuk Nila dan teman-teman senasib Nila di tiga kecamatan paling tertinggal di Madiun yang berlokasi di daerah pegunungan, kami membuka sebuah Email dari netter dari NTB yang ingin membantu Sepeda untuk Bu Miati. Beliau meminta kami informasi harga sepeda di Madiun dan beliau akan mentransfer ke LMI Madiun.
LMI Madiun sering menerima kedatangan orang tua siswa kurang mampu yang mengeluhkan biaya pendidikan yang tinggi. Putra putri mereka sering menunggak biaya komite sekolah dan uang buku, sehingga saat penerimaan raport semester belum bisa melihat nilai hasil belajarnya.
Untuk meringankan beban mereka, setiap bulan LMI Madiun memberikan beasiswa kepada 220 siswa kurang mampu yang tinggal di kota dan kabupaten di Madiun mulai siswa TK sampai SMA.Beasiswa diberikan langsung pada siswa penerima beasiswa hari Kamis (26 April) di kantor LMI.
Acara yang dimulai pukul 09.00 diawali dengan beberapa pengumuman yang berkaitan dengan program bimbel dan komputer gratis. Dari berbagai macam SD, SMP dan SMA yang berbeda, mereka bergabung menjadi anak asuh LMI.
Setiap bulan mendapat santunan beasiswa dengan nominal Rp. 30.000,- untuk siswa TK & SD, Rp. 35.000,- siswa SMP dan Rp. 40.000,- siswa SMA.
Dari 220 siswa penerima beasiswa, 75 anak berasal dari Kare, Gemarang, dan Saradan. Kehidupan sehari-hari mereka yang memprihatinkan inilah yang menjadikan alasan relawan-relawan LMI yang ada di Kare, Gemarang dan Saradan mengusulkan ke 75 anak tersebut menjadi bagian dari penerima beasiswa LMI Madiun.
Setiap hari belum tentu mereka bisa makan nasi dan lauk, bisa makan tiwul dan gatot sebagai makanan pokok mereka sudah beruntung bagi mereka.Penghasilan sebagai buruh tani hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari, sedangkan putra putri mereka butuh pendidikan yang memadai dengan harapan bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Ketika angkutan kota dan sepeda motor menjadi salah satu transportasi utama yang dipakai masyarakat, menyebabkan penghasilan abang becak menjadi berkurang, kondisi ini mempengaruhi kehidupan ekonomi mereka. Biaya hidup dan pendidikan yang tinggi, pendapatan sehari-hari yang tidak pasti semakin menambah beban kehidupan keluarga tukang becak.
Untuk membantu meringankan beban bapak-bapak tukang becak tersebut, hari Rabu (25/3) LMI Cabang Madiun meluncurkan satu program lagi yang berbentuk “Paguyuban Becak Sehat Sejahtera” yang beranggotakan 100 tukang becak yang setiap harinya mengais rejeki di Madiun.
Di awal kegiatan program peduli abang becak, LMI Madiun mengundang 100 tukang becak untuk menerima santunan sembako dan kaos berlogo “Paguyuban Abang Becak Sehat Sejahtera LMI Madiun.”
Acara yang diselenggarakan di kantor LMI dimulai pukul 09.00 dengan dipandu Divisi Program (Bu Yuli) kepada bapak-bapak tukang becak ini, bu Yuli mengenalkan profil LMI Madiun agar mereka mengenal LMI.
Tak lupa bu Yuli juga menyampaikan program-program yang akan digulirkan LMI untuk abang becak. Selain memberikan sembako tiap bulan, putra putri tukang becak mendapat kesempatan ikut bimbel dan komputer gratis setiap hari Senin sampai Kamis.
Di Bidang kesehatan LMI Madiun memberikan layanan berobat gratis lewat pengobatan gratis dan klinik dhuafa yang akan segera direalisasikan Insya Allah termasuk bersalin gratis nantinya.
Bagi istri-istri tukang becak akan diberikan pelatihan ketrampilan yang bisa digunakan untuk membantu menambah pendapatan sehari-hari seperti tata boga maupun kursus menjahit.
Di akhir acara ini, LMI Madiun membagikan paket sembako pada 100 tukang becak. Paket sembako yang berisi beras, gula, mie dan teh diterima setiap abang becak yang menjadi anggota “Paguyuban Becak Sehat Sejahtera”. Hingga akhir acara pembagian sembako dan kaos LMI berlangsung dengan lancar dan tertib.
Nila, gadis kelas satu SD Kare 6 Kecamatan Kare Kabupaten Madiun harus hidup hanya berdua dengan sang Ibu setelah ditinggalkan oleh sang ayah sejak umur satu bulan. Hidup ala kadarnya di lereng gunung wilis dijalani hingga saat ini.
Yatmiasih-Sang Ibu, memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menggarap lahan di sela-sela tanaman kopi milik perusahaan kopi di Kandangan Kare Kabupaten Madiun. Lahan yang tak terlalu luas yang digarap oleh Miasih-begitu panggilan ibu yatmiasih, ditanami jagung dan ketela. Ketela yang ditanam oleh Miasih panen setahun sekali, sementara jagung bisa sampai tiga kali.
“kemarin saya hampir tidak bisa menikmati hasil panen, karena jagung yang sudah siap panen dirusak dan dijarah oleh serombongan kera yang turun dari gunung. Kebetulan saat itu saya tidak bisa menjaga kebun karena sedang mengunjungi saudara di ponorogo. Esok harinya saat saya ke kebun ternyata sudah ludes.”
Miasih juga mengatakan tidak adanya penghasilan yang diterima rutin kecuali saat panen tiba dengan menjual hasil panen yang juga tak seberapa.
Jarak antara rumah dan kebun sejauh 2-3 kilometer ditempuh dengan jalan kaki.
”Mengapa ibu tidak naik sepeda?” begitu tanya LMI Madiun
”saya tidak punya sepeda.” jawab beliau
”Tapi ibu bisa naik sepeda?”
”Belum. Tapi kalau ada sepeda saya bisa belajar. Minimal bisa untuk mengangkut hasil panen. Tidak seperti sekarang, tempatnya jauh akhirnya saya gendong bolak balik setengah gelangsing setiap hari”
Bu Miasih juga menceritakan kalau beliau baru berangkat ke kebun setelah anaknya berangkat dan pulang sekitar jam sebelas saat anaknya pulang sekolah.
”Setelah itu tidak ke kebun lagi bu?”
”Tidak. Sekarang saya sudah tua. Kalau sudah pulang mau berangkat lagi sudah tidak kuat. Dulu sejak Nila masih bayi dan belum masuk sekolah, selalu saya bawa ke kebun dan bisa pulang agak sore. Kalau sekarang, kasihan anak saya.”
Memprihatinkan itu kata yang tepat ketika Miasih menjawab pertanyaan staf LMI, “kalau ibu tidak ada penghasilan kecuali dari hasil panen, terus ibu dengan dik Nila makannya bagaimana?”
Miasih segera tertunduk dan merangkul anak semata wayang yang duduk di sebelahnya. Matanya sembab, tertunduk, mulai menangis dan terisak. Mungkin beliau merasa bersalah karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya.
“Saya hanya makan gatot”
Kami hanya bisa melongo. Bagaimana tidak, sementara tetangganya semua bisa menikmati nasi hangat setiap hari, ibu-anak ini hanya bisa makan makanan hasil olahan ketela yang dihasilkan dari lahan yang digarapnya setiap hari dari pagi hingga siang hari.
Yang membanggakan siapapun yang kenal dengan keluarga ini adalah meskipun asupan gizi dan kebutuhan tidak bisa terpenuhi sebagaimana mestinya, Nila tetap berprestasi di sekolahnya. Nila tercatat meraih Rangking 2 di kelasnya, sesuatu yang membuat kita menggelengkan kepala.
Dengan menangis Miasih menceritakan, kalau beliau dan anaknya sudah empat kali diusir oleh kepala dusun setempat karena terpaksa menempati lahan bengkok desa yang dibiarkan terbengkalai. Akan tetapi karena belum ada tempat tinggal yang baru, sampai saat ini beliau tetap menempati gubug kecilnya yang berdinding tripleks dan sudah penuh tambalan karena usang tertempa panas matahari dan hujan bertahun-tahun.
Ketika kami tanyakan, mengapa tidak mencoba mencari penghidupan lebih baik dengan merantau saja, beliau menjawab, “apa ada yang mau menerima saya bekerja? Terus anak saya bagaimana? Kalau ikut saya, sekolahnya bagaimana?”
Ada yang bisa menerima ibu dan anak ini bersama Anda?
BEASISWA DHUAFA DAN SANTUNAN ANAK YATIM DI KARE, GEMARANG DAN SARADAN
LMI Cabang Madiun kembali melebarkan sayapnya ke wilayah kabupaten Madiun dengan program peduli desa tertinggal dengan memberikan beasiswa kepada 75 anak kurang mampu 10 santunan anak yatim di Kare, Gemarang, dan Saradan. Ahad (15/3) tim LMI Madiun sebanyak 5 orang meluncur ke daerah tersebut.
Berangkat dari Madiun pukul 06.30 naik mobil carteran, pak Miftahurrohman beserta stafnya menjalankan amanah donatur untuk menyampaikan santunan dan beasiswa meskipun hari Ahad adalah hari libur.
Tujuan perjalanan kami yang pertama di daerah Kare. Dengan diantar salah seorang relawan LMI yang tinggal di Kare, kami mengunjungi tiga anak yatim penerima santunan LMI. Kami melihat langsung kondisi keluarga ketiga penerima santunan.
Kehidupan keluarga salah satu anak penerima santunan yatim begitu memprihatinkan. Karena kondisi keuangan yang jauh dari cukup dia bersama sang ibu tiap hari hanya mampu makan gatot sebagai makanan pokoknya. Sementara rumah yang mereka tinggali adalah tanah bengkok yang setiap saat mereka berdua harus siap diusir dari tempat tersebut. Sedangkan kebutuhan sehari-hari dicukupi dari penghasilan sang ibu bekerja sebagai buruh tani yang setiap hari belum tentu pulang bawa uang. Dua penerima santunan LMI berkehidupan juga tidak jauh berbeda kondisinya.
Sebelum kami meninggalkan Kare, kami menitipkan pada relawan LMI di Kare untuk membagikan beasiswa dan santunan anak yatim yang belum kami serahkan pada mereka yang sudah masuk data anak asuh LMI.
Perjalanan kami lanjutkan ke Gemarang. Daerah yang dikenal tandus dan dipenuhi pohon jati. Di Gemarang kami mengunjungi 2 anak penerima beasiswa. Kondisi sang bapak yang menjadi tulang punggung keluarga menderita stroke membuat kondisi ekonomi keluarganya jadi kekurangan. Di Gemarang kami menyerahkan 25 beasiswa kurang mampu kepada relawan LMI Gemarang untuk diberikan kepada mereka yang berhak . Dari Gemarang kami meluncur ke Saradan untuk memberikan secara simbolis kepada 2 anak penerima beasiswa. Kondisi rumah yang sangat sederhana, gedeg dengan perabotan kursi bambu untuk menerima tamu menunjukkan bahwa 2 keluarga tersebut kehidupannya jauh dari cukup. Pekerjaan orang tua kedua anak tersebut sebagai pembuat pot bunga yang belum tentu setiap hari ada yang membeli.
Dari perjalanan tersebut, kami banyak mendapatkan hikmah bahwa banyak sekali saudara-saudara kita hidup di bawah garis kemiskinan. Meskipun mereka miskin, tapi mereka masih punya keinginan untuk menyekolahkan putra putrinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Semoga gambaran kehidupan mereka membuat kita semakin peduli pada saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Remaja adalah salah satu kader yang akan meneruskan perjuangan bangsa Indonesia. Lahirnya remaja yang berilmu dan berakhlak mulia merupakan cita-cita setiap lembaga pendidikan formal (sekolah) seperti halnya SMKN 5 Madiun ingin menghasilkan siswa siswi yang berilmu dan berakhlak mulia. Melalui peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, pada hari Jum’at (5/3) SMKN 5 memberikan training motivasi pada siswanya. Bekerja sama dengan LMI Madiun menghadirkan mas Chidmat dari Trusco Surabaya sebagai narasumber dengan tema “The Meaning of Life.”
Acara yang dimulai pukul 08.00 dibuka oleh bapak kepala sekolah SMKN 5. Peringatan Maulud Nabi bukan hanya sekeder acara ceremonial saja, namun sebagai moment bagi siswa SMKN 5 Madiun untuk mengingat dan menjadikan Rosulullah sebagai sosok yang wajib ditiru akhlaknya.
Di awal training mas Chidmat menyampaikan karakter remaja masa kini yang penuh problema hidup karena masa remajanya diisi dengan aktivitas negatif. Beliau mengajak peserta training untuk memotivasi diri menjadi remaja yang berpredikat positif dengan mengisi masa remaja dengan berprestasi, berakhlak mulia sehingga bisa memberikan kontribusi positif kepada orang tua, sekolah, dan masyarakat.
Bagi mereka yang sudah terlanjut terbawa arus negatif, diajak oleh mas Chidmat untuk berbenah diri meninggalkan masa lalu yang kelam untuk menjadi remaja yang baik. Di sela-sela acara tersebut, mas Chidmat juga mengajak peserta melakukan perenungan diri/hipnotis sebagai salah satu cara untuk merasakan kedekatan diri dengan Yang Maha Kuasa.
Mas Chidmat juga mengajak peserta seminar menghilangkan perasaan benci, kesal dan dendam pada masa lalu dengan bermain karet gelang. Setiap peserta mendapatkan 15 karet untuk diputus, mulai 5 karet, 10 karet sampai 15 karet, sehingga rasa benci, dendam, dan kesal pada seseorang akan hilang dan berubah positif jadi pemaaf terhadap orang-orang yang pernah mengecewakan dirinya.
Perubahan sifat positif inilah yang membantu peserta yang bermasa lalu kelam menjadi bersemangat menjalani masa depan yang lebih baik. Dari ekspresi yang ditunjukkan peserta mulai awal hingga akhir acara nampaknya mereka begitu terbawa suasana yang dibangun oleh mas Chidmat hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.30.
Antusias pelajar SMKN 5 mengikuti acara ini patut diberi acungan jempol, mereka ingin menjadi sosok remaja yang bisa dibanggakan orang tua. Perubahan ke arah yang lebih baik tidak lepas dari dukungan pihak sekolah untuk memfasilitasi siswanya, seperti halnya yang terjadi di SMKN 5 Madiun. Selain berusaha memberi ilmu, bapak serta ibu pengajar di SMKN 5 Madiun memberikan kebebasan menyelenggarakan kegiatan dan acara yang bertujuan membentuk akhlak yang mulia anak didiknya. Semoga kegiatan ini bisa memberikan manfaat besar bagi perbaikan remaja masa kini.