Jumat, 09 April 2010

KISAH ANAK YATIM BERPRESTASI YANG INGIN MENGGAPAI SEBUAH CITA-CITA



KISAH ANAK YATIM BERPRESTASI

YANG INGIN MENGGAPAI SEBUAH CITA-CITA



Namaku Andari Dian Ariestiani, aku biasa dipanggil Dian. Aku lahir tanggal 23

Maret 1995. Saat ini aku duduk di kelas 9 SMP RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) di kota Madiun. Saat aku SD aku termasuk siswa berprestasi, alasan itulah yang mendorong guruku agar aku masuk RSBI yang saat itu baru satu-satunya ada di Madiun. Aku mempunyai satu orang adik berumur 6 tahun, hingga saat ini adikku belum sekolah karena masalah keuangan. Tepatnya 3 tahun yang lalu saat aku duduk di kelas 6 SD ayah meninggalkan aku selama-lamanya karena sakit. Sampai saat ini aku, adikku dan ibuku numpang tinggal di rumah nenek. Sepeninggal ayah, ibuku usaha kerupuk puli dan menjahit.

Sebelum sakit ayahku adalah seorang sales jajanan keliling. Namun setelah beliau sering sakit dan pingsan ayah beralih profesi sebagai sopir di sebuah toko.Dengan penghasilan hanya 10.000 perhari ayahku menekuni profesi itu. Sakit beliau kelihatan parah setelah ayah sering pingsan, akhirnya ibu curiga dengan kondisi tersebut dan membawa beliau ke rumah sakit. Oleh dokter beliau dianjurkan untuk rawat inap menjalani pemeriksaan lebih detail. Ayah diharuskan menjalani rontgen otak. Hasilnya membuat kami sekeluarga kaget, ternyata beliau difonis kanker otak stadium akhir dan difonis umurnya kurang lebih tinggal 2 bulan lagi. Dokter juga menganjurkan agar ayah dioperasi. Namun saat ibu tidak setuju beliau dioperasi karena menurut dokter dioperasipun belum tentu sembuh. Akhirnya ayah menjalani rawat jalan. Sejak saat itu ayah hanya bisa berbaring di tempat tidur dengan kondisi tubuh sangat lemah. Meskipun sakit ayah tetap menjalankan sholat lima waktu di ranjangnya.Dan akhirnya 2 bulan kemudian Alloh mengambil ayahku untuk selama-lamanya. Sangat mudah jalan baginya saat meninggalkan kami hingga kami tidak sadar bahwa beliau meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Sepeninggal beliau kami mencoba untuk hidup normal lagi. Hampir 2 bulan kami hidup bergantung pada kakek, karena ibu belum berpenghasilan sendiri. Akhirnya ibu memutuskan untuk usaha krupuk puli dan ambil jahitan di konveksi. Namun penghasilan ibu juga nggak tentu. Apalagi setelah kakek menyusul ayah pergi selama-lamanya, kondisi ekonomi keluarga kami juga terpengaruh meskipun kakek meninggalkan uang pensiun namun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan nenek sendiri.

Dari kelas satu SMP aku dibebaskan biaya SPP dari pihak sekolah. Alhamdulillah teman-temanku di sekolah sering menolong aku disaat aku mengalami kesulitan, meskipun mereka adalah orang mampu. Meskipun aku berasal dari keluarga tidak mampu aku tidak merasa minder sedikitpun terhadap mereka. Prestasi belajar yang aku peroleh selama ini juga tidak mengecewakan. Nilai rata-rata di raport mesti diatas angka 8. Dan sekarang aku sudah duduk di kelas 9, sebentar lagi memasuki jenjang SMU. Pada umumnya anak seumuranku telah menentukan SMA yang mereka inginkan, tapi aku bingung dengan keterbatasan biaya. Ibuku menganjurkan aku masuk SMF (Sekolah Menengah Farmasi) namun disana tidak diperbolehkan berjilbab sementara aku ingin tetap berjilbab. Sebenarnya aku ingin melanjutkan ke SMA 2 salah satu sekolah favorit disekolahku, di sana aku ingin lebih berprestasi dan yang paling penting aku ingin tetap berjilbab. Tapi ibuku tidak setuju, karena selepas SMA sulit cari kerjaan, kalau mau kuliah lagi uangnya darimana. Sementara kalau lulus SMF bisa langsung kerja. Padahal aku punya cita-cita ingin kuliah sehingga bisa membahagiakan ibuku dan menyekolahkan adikku. Saat ini aku hanya bisa berdoa semoga ada yang mau membantuku mewujudkan impianku. Aku sering sholat tahajud

menangis dan meminta pada Yang Maha Kuasa agar dimudahkan menggapai impianku, karena aku berprinsip bahwa setiap orang harus punya mimpi setinggi-tingginya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar